Sama gan, boleh minta password patch ny gan? perlu password untuk extract file nya. trims
Author: admin
-
(No Title)
Halo gan. Terima kasih untuk Installer Surpac 6.3 nya. Tetapi untuk crack patch nya perlu input password nih, ada ga ya passwordnya? trims gan.
-

Download Surpac 6.3 Lengkap Dengan Patch + Crack
Download Surpac 6.3 Lengkap Dengan Patch + Crack – GEMCOM Surpac bagi agan-agan Fakultas Teknik khususnya Teknik Pertambangan pasti sudah tahu software yang satu ini kalau ada yang tidak tahu hukumannya shitup 1000x hehehe……! bercanda aja gan. Baik kesempatan kali ini saya akan beri ulasan/review seadanya tentang software Surpac ini.
Surpac™ adalah salah satu software tambang analist yang paling popular, dan paling banyak digunakan khususnya didunia industri pertambangan. Software Surpac ini secara mumpuni menangani cakupan kerja di bidang eksplorasi maupun produksi (devisi mining plan engineer) dan tersebar hampir di 120 negera menggunakannya. Perangkat lunak ini memberikan efisiensi dan akurasi melalui kemudahan penggunaan 3-D, grafis yang bagus dan alur kerja otomatis serta dapat disesuaikan dengan proses kerja khususnya untuk perusahaan yang bergerak di industri pertambangan.
Baca Juga :
1. GEOVIA SURPAC v6.6.2 x64 Lengkap Cara Instal
2. GEOVIA MINESCHED v9.0.0 x64 Full Patch
3. GEOVIA MINEX v6.5.293 Full Patch
4. GEMCOM SURPAC v6.3 Lengkap Dengan Patch + Crack
5. GEMCOM SURPAC v6.5.1 Lengkap Dengan Patch
6. GEMCOM WHITTLE v4.5.1 Lengkap PatchSurpac™ hampir merupakan sebuah persyaratan basic dari para ahli geologi, surveyor, dan insinyur pertambangan. Di bidang/sektor sumber daya lainnya, Surpac cukup fleksibel untuk setiap komoditas, banyak metode yang dapat diterapkan, meliputi perhitungan cadangan,design pit,design jalan, dan masih banyak kelebihan yang lain. Kemudian kemampuan multibahasa dari software ini yang memungkinkan perusahaan global memanfaatkannya sebagai solusi umum dalam operasi mereka.
Saya banyak menerima email masuk kadang juga sms, whatsapp yang hampir semua pertanyaan sama. Mereka bertanya tentang kapan data ekspire (masa berlakunya) software ini maksudnya Surpac 6.3 akan habis, sekalian saja saya screen shoot gambarnya. Date expires Surpac 6.3 seperti terlihat pada gambar dibawah ini gan. Date Expires Surpac 6.3 2026/15/14 ! wuiih….lama juga gan ternyata hampir 10 tahun, jadi masih bisa dipakai sampai hingga tahun 2026 sana gan.
Link Download Password Winrar Contact AdminContact AdminPanduan Instal Gemcom Surpac 6.3
INFORMASI : bagi agan-agan yang ingin Belajar Software Surpac secara ortodidak tanpa kursus atau training, dijamin agan langsung MAHIR SURPAC. Silahkan download Video Panduan ini gan……!Sekian ulasan/review singkat tentang Surpac 6.3. Akhir kata Semoga Bermanfaat ! Bagi agan-agan yang ingin menambahkan,memberikan saran atau masukan silahkan di kotak komentar. -

Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Seismik
Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Seismik, tujuan utama dari suatu survei seismik adalah memberikan informasi mengenai geologi bawah permukaan. Metoda seismik ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :– Seismik dangkal (shallow seismic reflection) yang umumnya digunakan dalam eksplorasi batu bara dan bahan tambang lainnya.Prinsip dasar dari metoda seismik pantul ini adalah pengiriman sinyal ke dalam bumi, dan karena adanya bidang perlapisan (bidang kontak) maka bidang tersebut dapat menjadi bidang pantul (reflektor). Sinyal yang dikirim melalui alat peledak (S) direfleksikan oleh bidang reflektor oleh titik refleksi (R), dan sinyal yang dipantulkan direkam oleh detektor berupa geofon (G). Jika h adalah ketebalan lapisan, maka waktu (t) yang dibutuhkan oleh sinyal untuk sampai ke detektor adalah :
– Untuk 1 (satu) lapisan :
dimana V1 adalah kecepatan rambat gelombang pada lapisan 1
– Untuk 2 (dua) lapisan :
dimana kecepatan rambat dan waktu dapat diketahui, sehingga ketebalan masing-masing lapisan dapat dihitung.
Gambar 01.Sketsa prinsip dasar seismik refleksiKarena banyaknya aspek yang dibahas dalam seismik ini, maka dalam tulisan ini hanya membahas hal-hal praktis saja
1 Parameter-parameter yang Harus DiperhatikanKualitas data seismik sangat ditentukan oleh kesesuaian parameter lapangan yang digunakan dengan kondisi geologi dan kondisi permukaan daerah survei. Disamping itu parameter lapangan juga harus disesuaikan dengan target eksplorasi yang ingin dicapai. Jadi keberhasilan suatu survei seismik sangat ditentukan dari desain parameter lapangan digunakan. Beberapa parameter lapangan yang harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan adalah sebagai berikut :– Jumlah dan susunan geopon– Interval sampling– Jumlah bahan peledak dan kedalaman lubang bor– Jarak antar titik tembak– Jarak antara geopon– Geometri penembakan– Filter (high-cut dan low-cut).
Parameter lapangan dirancang berdasarkan data geologi dan data geofisika yang ada, dan penentuannya dilakukan dengan uji coba secara langsung di lapangan. Parameter dipilih berdasarkan optimasi keterbatasan parameter lapangan dalam memecahkan problem yang muncul. Selain itu faktor ekonomis juga merupakan pertimbangan utama dalam optimasi.
2 Cara Penentuan Parameter Lapangan
a. Analisa noise (gangguan)Analisa noise ditujukan untuk mendeskripsikan parameter fisis sinyal dan noise sehingga desain parameter lapangan dapat dilakukan dengan baik. Analisa (test) noise ini dilakukan paling awal sebelum survei seismik dimulai. Noise adalah gelombang yang tidak diharapkan dan sering muncul pada saat perekaman seismik. Biasanya mengganggu sinyal refleksi.
b. Susunan geopon (array geophone)Tujuan dari penentuan array geophone ini adalah untuk mendapatkan bentuk susunan geophone yang dapat berfungsi meredam noise (ground roll) secara optimal sehingga signal to noise ratio-nya (S/N ratio) tinggi. Untuk menaikkan (S/N ratio) ground roll harus diredam dengan cara menebarkan geophone.
c. Test kedalaman dan jumlah dinamitTujuan test ini adalah untuk menentukan kedalaman pemboran dan jumlah dinamit yang paling optimum, artinya dapat memberikan hasil perekaman seperti yang diharapkan tetapi juga dengan biaya yang ekonomis.
d. Jarak titik tembakUntuk melakukan pemilihan jarak terdekat dan terjauh ini, kita kaitkan dengan target dari survei. Untuk memilih jarak terdekat biasanya digunakan acuan target terdangkal, sedangkan untuk jarak terjauh kita gunakan acuan target terdalam.
e. Geometri PenembakanInformasi struktur geologi dan data geofisika yang ada di daerah penyelidikan sangat diperlukan untuk menentukan geometri penembakan. Pemilihan cara penembakan, tergantung pada kedalaman zona prospek dan kompleksitas struktur bawah permukaan. Pemilihan geometri penembakan berguna untuk memfokuskan energi seismik sehingga efektifitas sumber menjadi lebih optimal.
f. Filter (low cut dan high cut)Penentuan filter low-cut dan high-cut ini kita lakukan pada instrumen yang kita gunakan. Pemilihan high cut filter dapat ditentukan atas dasar sampling rate yang digunakan karena sampling rate menentukan besarnya frekuensi aliasing. Pemilihan besarnya low cut filter ditujukan untuk meredam noise berfrekuensi lebih rendah dari frekuensi geophone yang digunakan apabila noise tersebut terlalu menenggelamkan sinyal.
g. Sampling ratePenentuan besar kecilnya sampling rate bergantung pada frekuensi maksimum sinyal yang ingin direkam pada daerah survei tersebut. Tetapi pada kenyataannya, besarnya sampling rate dalam perekaman sangat bergantung pada kemampuan instrumentasi perekaman yang digunakan, dan biasanya sudah ditentukan oleh pabrik pembuat instrumen tersebut. Penentuan sampling rate ini akan memberikan batas frekuensi tertinggi yang terekam akibat adanya aliasing
3 Prosedur Pengambilan Data di Lapangan
a. Pemasangan patokSebelum dilakukan pengukuran seismik, maka terlebih dahulu harus ditentukan posisi koordinat (X, Y, dan Z) dari tiap-tiap titik geophone maupun shot point. Penentuan koordinat ini dapat dilakukan dengan menggunakan theodolith ataupun GPS. Titik-titik tersebut, kemudian ditandai dengan patok yang sudah mempunyai harga koordinat terhadap referensi tertentu.
b. Pemasangan geophoneGeophone dipasang sesuai dengan rencana tipe penembakan yang akan dilakukan dan disusun berurutan. Pemasangan geophone diusahakan sedekat mungkin dengan patok yang sudah diukur koordinatnya.
c. Pemasangan sumber peledakSumber peledak dipasang sesuai dengan rencana tipe penembakan
d. Persiapan alat perekaman data seismikSebelum melakukan penembakan alat perekam harus dicek terlebih dahulu, sehingga data yang dihasilkan cukup optimal.
e. PenembakanPenembakan hanya dapat dilakukan ketika alat perekam data seismik sudah dilakukan pengecekan dan terpasang dengan baik.
f. Pencatatan data pengamatan pada observer logData pengamatan dan kejadian selama berlangsungnya pengukuran kemudian disalin pada buku observer log
Seismik Refraksi
Jika gelombang seismik melewati dua medium yang mempunyai kecepatan rambat yang berbeda, maka gelombang tersebut akan terbiaskan (refraksi). Jika gelombang yang datang membentuk sudut i1 dan dipantulkan dengan sudut i2 dari garis normal (Gambar 02), maka :
dimana V1 dan V2 adalah kecepatan rambat pada masing-masing media.
Jika kecepatan rambat V2 lebih besar daripada kecepatan rambat V2, maka sudut refraksi lebih besar daripada sudut normal, dan disebut sebagai sudut ic.
Jika gelombang rambat bergerak di sepanjang bidang pantul, maka sudut yang dibentuk disebut dengan sudut kritis (lihat Gambar 02)
Gambar 02.Refraksi sinar (atas), dan terbentuknya sudut kritis (bawah)
Jika jarak dari break point diketahui, maka dapat diperoleh ketebalan lapisan antara bidang refraksi, yaitu :
Contoh grafik hasil survei refraksi dan interpretasi bawah permukaan dapat dilihat pada Gambar 03
Gambar 03.Kurva time-distances
Seismik Refraksi – Perencanaan Survei
Tahap pertama dari suatu perencanaan survei seismik refraksi adalah memilih lokasi dan panjang lintasan survei dengan menggunakan peta topografi daerah penyelidikan. Lokasi lintasan survei harus di set untuk mencapai tujuan survei secara efisien, yaitu menggunakan informasi yang ada pada peta topografi dan peta geologi. Rekaman titik penerima kedatangan pertama (first arrival) merupakan gelombang langsung dan kedatangan pertama (first break) dari gelombang refraksi tidak muncul.
Seismik Refraksi – Pengambilan Data
Untuk mendapatkan kualitas rekaman seismik refraksi yang tinggi dan mengandung bentuk first break yang tajam perlu dilakukan beberapa teknik, diantaranya adalah stacking, mempertinggi kekuatan sumber dan filtering. Sistem perekam seismik yang bisa digunakan adalah system perekam seismik 24 channel. Sedangkan sumber seismik yang sering digunakan adalah dinamit. Bila menggunakan dinamit sebagai sumber, perlu dipilih tempat yang tepat untuk melakukan peledakan, yaitu tempat dimana energi dinamit dapat terkonversi menjadi energi seismik secara efektif. Biasanya, dinamit diledakkan di dalam lubang bawah permukaan. Bila jarak sumber ke penerima lebih dari seratus meter, akan lebih baik meledakkan dinamit di dalam air dengan kedalaman lebih dari 50 cm atau membuat lubang lebih dalam sehingga ledakan dinamit menjadi lebih efektif
Referensi/Daftar Pustaka :
1. Parasnis, D.S., Mining Geophysics., Elsevier Scientifics Publishing Company, New York, 1973
2. Telford, W.M., L.P. Goldart., R.E. Sheriff., Applied Geophysics, Second Edition, Cambridge University Press., 1990
3. Buku Pegangan Kuliah Lapangan Geofisika, edisi kedua, Program Studi Teknik Geofisika, Jurusan Teknik Geologi, FTM-ITB, 1997. -

Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metoda Gravitasi
Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metoda Gravitasi,- secara umum metoda gaya berat merupakan metoda geofisika yang mengukur variasi gaya berat (gravitational) di bumi. Metoda ini jarang digunakan pada tahapan lanjut eksplorasi bijih, namun cukup baik digunakan untuk mendefinisikan daerah target spesifik untuk selanjutnya disurvei dengan metoda-metoda geofisika lain yang lebih detil.
Adanya variasi medan gravitasi bumi ditimbulkan oleh adanya perbedaan rapat massa (density) antar batuan. Adanya suatu sumber yang berupa suatu massa (masif, lensa, atau bongkah besar) di bawah permukaan akan menyebabkan terjadinya gangguan medan gaya berat (relatif). Adanya gangguan ini disebut sebagai anomali gaya berat. Karena perbedaan medan gayaberat ini relatif kecil maka diperlukan alat ukur yang mempunyai ketelitian yang cukup tinggi. Alat ukur yang sering digunakan adalah Gravimeter. Alat pengukur gayaberat di darat telah mencapai ketelitian sebesar ± 0.01 mGal dan di laut sebesar ± 1 mGal.Beberapa endapan seperti zinc, bauksit, atau barit sangat sulit dideteksi melalui metoda magnetik maupun elektrik, namun dapat dideteksi dengan metoda gaya berat (gravity), tapi hanya untuk mengetahui profil batuan sampingnya (tidak dapat langsung mendeteksi bijihnya) melalui anomali densiti.
Dasar teori yang dipakai dalam metoda ini adalah Hukum Newton tentang gravitasi bumi. Untuk bumi yang berbentuk bulat, homogen, dan tidak berotasi, maka massa bumi (M) dengan jari-jari (R) akan menimbulkan gaya tarik pada benda dengan massa (m) di permukaan bumi sebesar.
dengan (g) adalah percepatan gaya berat vertikal permukaan bumi.
Harga rata-rata gaya berat di permukaan bumi adalah 9.80 m/s2. Satuan yang digunakan adalah gaya berat adalah milliGal (1 mGal = 10-3 Gal = 10-3 cm/s2) atau ekivalen dengan 10 gu (gravity unit). Variasi gaya berat yang disebabkan oleh variasi perbedaan densitas bawah permukaan adalah sekitar 1 mGal (100 mm/s2).Karena bentuk bumi bukan merupakan bola pejal yang sempurna, dengan relif yang tidak rata, berotasi serta ber revolusi dalam sistem matahari, tidak homogen. Dengan demikian variasi gaya berat di setiap titik permukaan bumi akan dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu :– lintang– ketinggian– topografi– pasang surut– variasi densitas bawah permukaansehingga dalam pengukuran dan interpretasi, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan (dikoreksi)
1. 1 Prosedur Lapangan
Targetan observasi harus mempunyai kontras densiti yang jelas (significant) agar dapat dideteksi oleh gravimetri. Grid (lintasan) yang umum digunakan cukup lebar yaitu antara 200 m s/d 1 km (500 ft s/d 1 mil). Setiap titik pengamatan diusahakan bebas dari angin, pohon-pohon, pengaruh (getaran) tanah, dll. Elevasi setiap titik observasi harus diketahui dengan akurat karena akan diperhitungkan dalam pengkoreksian hasil pembacaan alat. Begitu juga dengan waktu setiap pengukuran.Series dari hasil perhitungan akan diplot pada kertas grafik terhadap waktu (Gambar 01)
Gambar 01Contoh pemplotan hasil pengukuran (0,01 mgal = 0,1 g.u)(Parasnis, 1973, p 239)
1.2 Koreksi Hasil Observasi
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa, harga pengukuran gayaberat di permukaan bumi dipengaruhi oleh 5 faktor. Sedangkan dalam melakukan survei gayaberat diharapkan satu faktor saja yaitu variasi densitas bawah permukaan, sehingga pengaruh 4 faktor lainnya (lintang, ketinggian, topografi, pasang surut) harus direduksi atau dihilangkan dari harga pembacaan alat.
a. Koreksi lintang (latitude)Koreksi terhadap titik pengukuran terhadap kutub bumi.dimanaadalah koordinat titik pengukuran dan titik base.
b. Koreksi elevasi (Free-Air Correction)Koreksi ini merupakan koreksi terhadap pengaruh ketinggian pengukuran terhadap medan gravitasi bumi.FAC = 3,086 h gu, dimana h adalah elevasi titik pengukuran
c. Koreksi Bouguer (Bougeur correction)Koreksi massa lapisan yang diasumsikan berada diantara titik amat dengan bidang referensi (lihat Gambar 2)Gambar 02Koreksi Bougeour (Parasnis, 1973, p 242) BC = 3,086 h gu,dimana h adalah elevasi titik pengukuran.
d. Koreksi topografi (Terrain correction)Koreksi topografi, Tc, adalah koreksi pengaruh topografi terhadap gayaberat pada titik amat, akibat perbedaan ketinggian antara titik observasi dengan base. Dapat dihitung dengan menggunakan Hammer Chart (lihat gambar 03)
Gambar 03Model yang digunakan untuk koreksi topografi dan diagram perhitungan (Parasnis, 1973, p 245 dan 246)
1.3 Anomali Bougeur
Merupakan anomali yang dicari dengan cara mereduksi hasil pengukuran lapangan dengan koreksi-koreksi seperti yang telah diuraikan di atasContoh penentuan anomali dapat dilihat pada Gambar 04
Gambar 04Contoh penentuan Anomali Bougeour
Referensi/Daftar Pustaka :1.Parasnis, D.S., Mining Geophysics., Elsevier Scientifics Publishing Company, New York, 19732.Telford, W.M., L.P. Goldart., R.E. Sheriff., Applied Geophysics, Second Edition, Cambridge University Press., 19903.Buku Pegangan Kuliah Lapangan Geofisika, edisi kedua, Program Studi Teknik Geofisika, Jurusan Teknik Geologi, FTM-ITB, 1997 -

CSR (Corporate Social Responsibility) dan CD CSR
CSR (Corporate Social Responsibility) dan CD CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegritkan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan pemangku kepentingan (stakeholder) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan, sedangkan CD (community development) merupakan upaya pemberdayaan untuk mendukung.
Berikut adalah beberapa definisi CSR di bawah ini menunjukkan keragaman pengertian CSR menurut berbagai organisasi:
– World Business Council for Sustainable Development: Komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.– European Commission: Sebuah konsep dengan mana perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan.– CSR Asia: Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para stakeholders.– International Organization for Standardization, sebuah lembaga sertifikasi internasional, saat ini sedang melakukan pengembangan standar internasional ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility yang juga memberikan definisi CSR. Meskipun pedoman CSR standar internasional ini baru akan ditetapkan tahun 2010, draft pedoman ini bisa dijadikan rujukan. Menurut ISO 26000, CSR adalah:”Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan–keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan para pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (draft 3, 2007)”.Berdasarkan pedoman ini, CSR tidaklah sesederhana sebagaimana dipahami dan dipraktekkan oleh kebanyakan perusahaan. CSR mencakup tujuh komponen utama, yaitu:
1. The Environment2. Social Development3. Human Rights4. Organizational Governance5. Labor Practices6 Fair Operating Practice7 Consumer Issues.
Di Indonesia, CSR semakin menguat setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007, dimana dalam pasal 74 antara lain diatur bahwa :1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Dalam Pasal 74 ayat 1 disebutkan bahwa Perseroan (mengacu pada UU No.40/2007 Pasal 1 ayat 1 bahwa Perseroan diartikan sebagai Perseroan Terbatas) yang menjalankan usaha di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan, namun tidak dijelaskan apakah hal tanggung jawab yang sama juga diwajibkan bagi entitas usaha yang tidak berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas. Sehingga, hal ini dapat menimbulkan penafsiran bahwa entitas usaha yang tidak berbentuk Perseroan Terbatas tidak diwajibkan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (mengacu pada UU No. 40/2007 Pasal 1 ayat 3 definisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya)Selanjutnya, bunyi pasal 74 ayat 1 tersebut menimbulkan pertanyaan lain yaitu apakah Perseroan Terbatas yang tidak menjalankan kegiatan usaha di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam dapat diartikan tidak diwajibkan melaksanakaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR). Selain itu, UU PT tidak menyebutkan secara rinci berapa besaran biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk CSR serta sanksi bagi yang melanggar. Pada ayat 2, 3 dan 4 hanya disebutkan bahwa CSR “dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran”. PT yang tidak melakukan CSR dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan.
Peraturan lain yang menyinggung CSR adalah UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa “Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.” Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan CSR (Pasal 34), UU ini baru mampu menjangkau investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal CSR bagi perusahaan nasional.Menurut Edi Suharto (2008), peraturan tentang CSR yang relatif lebih terperinci adalah UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudian dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No:Per-05/MBU/2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tatacara pelaksanaan CSR. Seperti diketahui, CSR milik BUMN adalah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam UU BUMN dinyatakan bahwa selain mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat. Selanjutnya, Permeneg BUMN menjelaskan bahwa sumber dana PKBL berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan sebesar maksimal 2 persen yang dapat digunakan untuk Program Kemitraan ataupun Bina Lingkungan.Peraturan ini juga menegaskan bahwa pihak-pihak yang berhak mendapat pinjaman adalah pengusaha beraset bersih maksimal Rp 200 juta atau beromset paling banyak Rp 1 miliar per tahun. Namun, UU ini pun masih menyisakan pertanyaan. Selain hanya mengatur BUMN, Program Kemitraan perlu sebelum disebut sebagai kegiatan CSR. Menurut Sribugo Suratmo (2008), kegiatan Kemitraan mirip dengan sebuah aktivitas sosial dari perusahaan namun di sini masih ada unsur bisnisnya (profit motive). Masing-masing pihak harus memperoleh keuntungan.
Pasal-pasal yang bersinggungan dengan implementasi CD (community development) tersirat dalam undang-undang minerba adalah:
– Pasal 95
Pemegang IUP dan IUPK wajib:
a) Menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik
b) Mengelola keuangan sesuai dengan system akuntasi Indonesia
c) Meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral/batubara
d) Melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat
e) Mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan– Pasal 106
Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat, barang dan jasa dalam negeri sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
– Pasal 107
Dalam melakukan kegiatan operasi produksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK wajib mengikutsertakan pengusaha local yang ada di daerah tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
– Pasal 108
a) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
b) Penyusunan program dan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan kepada pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Sekian penjelasan dan peraturan terkait dengan CSR, semoga bermanfaat bagi agan-agan.
-

Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Geolistrik
Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Geolistrik, – metoda geolistrik ini biasanya digunakan untuk menyelidiki kondisi bawah permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah permukaan bumi. Penyelidikan ini meliputi pendeteksian besarnya medan potensial, medan elektromagnetik dan arus listrik yang mengalir di dalam bumi baik secara alamiah (metoda pasif) maupun akibat injeksi arus ke dalam bumi (metoda aktif) dari permukaan.Dengan metoda elektrik (salah satunya tahanan jenis) mempunyai prinsip dasar mengirimkan arus ke bawah permukaan, dan mengukur kembali potensial yang diterima di permukaan. Hanya saja perlu diingat bahwa untuk daerah dengan formasi yang bersifat isolator metoda elektrik ini tidak efektif.Pada Gambar 1 dapat dilihat sebaran arus pada permukaan akibat arus listrik yang dikirim ke bawah permukaan. Garis tegas menunjukkan arus yang dikirim mengalami respon oleh suatu lapisan yang homogenous. Sedangkan arus putus-putus menunjukkan arus normal dengan nilai yang sama. Garis-garis tersebut disebut dengan garis equipotensia.
Gambar 01Garis-garis equipotensial
Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan/mineral dapat dikelompokkan menjadi tiga :– konduktor baik (10-8<r<1W.m)– konduktor sedang (1<r<107W.m)– konduktor baik (r>107W.m)
1. Faktor Geometri
Dalam melakukan eksplorasi tahanan jenis (resistivitas) diperlukan pengetahuan secara perbandingan posisi titik pengamatan terhadap sumber arus. Perbedaan letak titik tersebut akan mempengaruhi besar medan listrik yang akan diukur. Besaran koreksi terhadap perbedaan letak titik pengamatan tersebut dinamakan faktor geometri. Faktor geometri diturunkan dari beda potensial yang terjadi antara elektroda potensial MN yang diakibatkan oleh injeksi arus pada elektroda arus AB, yaitu :
Gambar 02Susunan jarak elektoda arus dan potensial
Faktor geometri K, merupakan unsur penting dalam perdugaan geolistrik baik pendugaan vertikal maupun horizontal, karena faktor geometri akan tetap untuk posisi AB dan MN yang tetap
2. Konfigurasi Susunan Alat
Untuk mempermudah pekerjaan dan perhitungan interpretasi, penempatan elektroda diatur menurut aturan tertentu. Beberapa aturan tersebut yaitu :
K = 2pa
Gambar 03
Konfigurasi alat metode Wenner
Keuntungan dan keterbatasan metoda Wenner :– Sangat sensitif terhadap perubahan lateral setempat (gawir/lensa setempat)– Karena bidang equipotensial untuk benda homogen berupa bola, data lebih mudah diproses atau dimengerti– Jarak elektroda arus dengan potensial relatif lebih pendek dari sehingga daya tembus alat sama lebih besar– Memerlukan tenaga/buruh yang lebih banyak
b. Metode Schlumberger
Gambar 04
Konfigurasi alat metode SchlumbergerKeuntungan dan keterbatasan metoda Schlumberger :– Tidak terlalu sensitif terhadap adanya perubahan lateral setempat, sehingga metoda ini dianjurkan untuk penyelidikan dalam
– Elektroda potensial sangat jarang dipindahkan, sehingga mengurangi jumlah tenaga/buruh yang dipakai Perbandingan AB/MN harus diantara 2,5 < AB/MN < 50
c. Metoda Double-dipole (Dipole-dipole)
Gambar 06
Konfigurasi alat metode Pole-dipole
3 Interprestasi DataPada Gambar 07 dapat dilihat contoh grafik hasil pengukuran lapangan dan interpretasi bawah permukaan yang diperkirakan.
Gambar 07
Apparent resistivity dan interpretasi profil hasil pengukuran
Metoda yang digunakan dalam interpretasi data tahanan jenis ini adalah metoda pencocokan kurva (curve mutching). Metoda ini dilakukan karena dari data hasil pengukuran lapangan yang kita dapatkan adalah harga resistivitas semu (apparent resestivity) sebagai fungsi dari spasi elektrodanya, ras = f(AB/2) atau log ras = log f(AB/2).Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam metode ini, yaitu interpretasi lapangan, dengan menentukan bentangan maksimal dan penentuan tipe kurva lapangan– Interpretasi awal untuk menentukan harga resistivitas masing-masing lapisan dengan menggunakan kurva standar dan kurva bantu (curve matching partial) Setelah diperoleh nilai resistivitas lapisan dan ketebalannya, maka selanjutnya dapat kita interpretasikan jenis batuan berdasarkan tabel resistivity beberapa jenis batuan (Tabel 1)– Interpretasi akhir, pada tahapan ini merupakan hasil interpretasi pendahuluan yang harus dikonfirmasikan dengan data lainnya, misalnya data geologi, sehingga informasi yang disajikan lebih lengkap.
Table 01Harga tahanan jenis beberapa jenis batuanReferensi/Daftar Pustaka :1. Buku Pegangan Kuliah Lapangan Geofisika, Prodi Teknik Geofisika, JurusanTeknik Geologi, FTM-ITB, 19972. Parasnis, D.S., Mining Geophysics., Elsevier Scientifics Publishing Company,New York, 1973 -

Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Magnetik
Eksplorasi Geofisika Menggunakan Metode Magnetik,- Metode Magnetik merupakan salah satu dari bagian metode geofisika yang diterapkan dalam kegiatan eksplorasi. Selain metode magnetik ini, ada juga metode lain yang digunakan misalnya metode geolistrik, metode gravitasi, metode seismik, atau sering disebut eksplorasi tak langsung. Penggunaan metode magnetik ini dilakukan berdasarkan atas adanya anomali medan magnet bumi akibat sifat kemagnetan batuan yang berbeda satu terhadap lainnya.
Ada beberapa tipe bijih seperti magnetit, ilmenit, dan phirotit yang dibawa oleh bijih sulfida menghasilkan distorsi dalam magnet kerak bumi, dan dapat digunakan untuk melokalisir sebaran bijih. Disamping aplikasi langsung tersebut, metoda magnetik dapat juga digunakan untuk survei prospeksi untuk mendeteksi formasi-formasi pembawa bijih dan gejala-gejala geologi lainnya (seperti sesar, kontak intrusi, dll). Dalam perumusan metode magnetik dapat diuraikan sebagai berikut :Gaya magnet (F) yang ditimbulkan oleh dua c yang berjarak (r) dengan muatan masing-masing (m1) dan (m2)m adalah permeabilitas magnetik medium. Kuat medan magnetik (H) pada suatu titik dengan jarak (r) dari muatannya adalah:
jika suatu benda berada dalam medan magnetik dengan kuat medan (H), maka akan terjadi polarisasi magnetik (I) sebesar : I = k.H, dimana k adalah kerentanan (susceptibilities) magnetik.
Sifat Umum Kemagnetan Batuan
Medan magnet bumi secara sederhana dapat digambarkan sebagai medan magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet raksasa yang terletak didalam inti bumi, namun tidak berimpit dengan pusat bumi. Medan magnet ini dinyatakan dalam besar dan arah (vektor) dimana arahnya dinyatakan dalam deklinasi (penyimpangan terhadap arah utara-selatan geografis) dan inklinasi (penyimpangan terhadap arah horizontal).Kuat medan magnet yang terukur dipermukaan sebagian besar berasal dari dalam bumi (internal field) mencapai lebih dari 90%, sedangkan sisanya adalah medan magnet dari kerak bumi, yang merupakan target didalam eksplorasi geofisika, dan medan dari luar bumi (external field).
Karena medan magnet dari dalam bumi merupakan bagian yang terbesar, maka medan ini sering juga disebut sebagai medan utama yang dihasilkan oleh adanya aktivitas di dalam inti bumi bagian luar (salah satu konsep adanya medan utama ini adalah dari teori dinamo).
Mineral-mineral dengan sifat magnet yang cukup tinggi antara lain :
– Oksida-oksida besi : FeO – Fe2O3 – TiO2
– Sulfida-sulfida dalam series troilite-phyrotitKerentanan (susceptibilities) Batuan
Kerentanan magnetik merupakan parameter yang menyebabkan timbulnya anomali magnetik dan karena sifatnya yang khas untuk setiap jenis mineral, khususnya logam, maka parameter ini merupakan salah satu subjek didalam prospek geofisika. Telah diketahui bahwa adanya medan magnet bumi menyebabkan terjadinya induksi magnetik yang besarnya adalah penjumlahan dari medan magnet bumi dan magnet batuan dengan kerentanan magnetik yang cukup tinggi. Besaran ini adalah total medan magnet yang terukur oleh magnetometer apabila remanan magnetiknya dapat diabaikan.Setiap jenis batuan mempunyai sifat dan karakteristik tertentu dalam medan magnet yang dimanifestasikan dalam parameter kerentanan magnetik batuan atau mineralnya (k). Dengan adanya perbedaan dan sifat khusus dari tiap jenis batuan atau mineral inilah yang melandasi digunakannya metoda magnetik untuk kegiatan eksplorasi maupun kepentingan geodinamika. Pada Tabel 1 dapat dilihat daftar kerentanan magnetik (k) beberapa jenis batuan dan mineral yang umum dijumpai.
Tabel 1.
Kerentanan magnet beberapa batuan dan mineral
(Telford, 1990., dan Parasnis, 1973)
Berdasarkan sifat magnetik yang ditunjukkan oleh kerentanan magnetiknya, batuan dan mineral dapat diklasifikasikan dalam :
1.Diamagnetik, mempunyai kerentanan magnetik (k) negatif dan kecil artinya bahwa orientasi elektron orbital substansi ini selalu berlawanan arah dengan medan magnet luar. Contohnya : graphite, marble, quarts dan salt.
2. Paramagnetik, mempunyai harga kerentanan magnetik (k) positif dan kecil
3. Ferromagnetik, mempunyai harga kerentanan magnetik (k) positif dan besar yaitu sekitar 106 kali dari diamagnetik/paramagnetik.Sifat kemagnetan substansi ini dipengaruhi oleh keadaan suhu, yaitu pada suhu diatas suhu Curie, sifat kemagnetannya hilang. Efek medan magnet dari substansi diamagnetit dan hampir sebagian besar paramagnetik adalah lemah
Penyajian Data Lapangan
Hasil pengukuran oleh magnetometer umumnya disajikan dalam bentuk Peta Anomali Magnetik dengan kontur yang mencerminkan harga anomali yan sama. Dari peta ini, untuk kepentingan eksplorasi masih memerlukan proses lebih lanjut untuk memperoleh daerah targetan atau daerah prospek. Suatu hal yang penting dalam pengolahan data survei magnetik adalah zero level, dan pekerjaan interpretasi dimulai dari daerah zero level tersebut lihat Gambar 1Gambar 01Penentuan magnetic zero level (Parasnis, 1973 p 38)Interpretasi
Suatu contoh sederhana hasil interpretasi dari hasil pengukuran lapangan dapat dilihat pada Gambar 2Gambar 2.
Anomali magnetik tubuh bijih suatu mineral
(Parasnis, 1973 p 39)
Dari interpretasi data magnetik, parameter-parameter tubuh bijih yang akan diperhitungkan adalah :
1. Kedalaman dari permukaan
2. Panjang (dimensi) endapan
3. Arah endapan
4. Batas bawah endapan
5. Ketebalan dari penampang
6. Intensitas magnetik untuk memperkirakan tipe tubuh bijih
Contoh Model Anomali Magnetik
Pada Gambar 3 dapat dilihat peta iso magnetik hasil survei magnetik batuan predominantly granulit pada daerah Udal Center Sweden, dengan nilai maksimum 1600. Kemudian dari peta kontur tersebut dibuat penampang melintang yang memotong daerah anomali, dan diinterpretasikan susunan batuan serta titik anomali (bijih) yang akan ditentukan (Gambar 4)Gambar 3Peta IsoanomaliGambar 3Penampang AGambar 4Penampang BReferensi/Daftar Pustaka :1. Buku Pegangan Kuliah Lapangan Geofisika, Prodi Teknik Geofisika, JurusanTeknik Geologi, FTM-ITB, 19972. Parasnis, D.S., Mining Geophysics., Elsevier Scientifics Publishing Company,New York, 1973 -

Konsep Dasar Perencanaan Tambang Terbuka
Konsep Dasar Perencanaan Tambang Terbuka, postingan berikut ini merupakan resume dari dasar perencanaan tambang. Mungkin ada agan-agan diluar sana yang mencari referensi dari dasar perencanaan tambang, sehingga dengan adanya postingan ini semoga dapat menambah wawasan. Selain itu juga agan-agan semua dapat memahami tentang konsep dasar membuat suatu perencanaan tambang, sebagai persyaratan wajib bagi agan-agan yang ingin menjadi seorang mine plan/engineer.
Untuk membuat perencanaan tambang ada 2 pertimbangan yang harus diketahui dan dipahami. Pertama adalah pertimbangan ekonomis dan kedua pertimbangan secara teknis.Berikut ini penjelasan dari kedua pertimbangan tersebut.Pertimbangan Ekonomis1 Cut Off Grade (COG)
Pengertian dari Cut Off Grade adalah kadar endapan bahan galian terendah yang masih memberikan keuntungan apabila ditambang.
Pengertian lain dari COG adalah kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih memberikan keuntungan apabila endapan tersebut ditambang. Maka cut off grade inilah berperan penting dalam menentukan batas-batas atau besarnya cadangan, serta menentukan perlu tidaknya dilakukan mixing/blending2 Break Even Stripping Ratio (BESR)
Untuk menganalisis kemungkinan sistem penambangan yang akan digunakan, apakah tambang terbuka ataukah tambang bawah tanah, maka dipelajari Break Even Stripping Ratio (BESR), yaitu perbandingan antara biaya penggalian endapan bijih (ore) dengan biaya pengupasan tanah penutup (overburden)Pertimbangan Teknis
1 Ultimate Pit Slope
Ultimate pit slope adalah batas akhir atau paling luar dari suatu tambang terbuka yang masih diperbolehkan, dan pada kemiringan ini jenjang masih tetap mantap (stabil). Jadi dalam menentukan kemiringan lereng suatu tambang harus ditinjau dari dua segi, yaitu :
– dari segi ekonomis masih menguntungkan
– dari segi teknis keamanannya bisa dijamin.
Dengan demikian, maka faktor-faktor yang mempengaruhi kemiringan lereng (ultimate pit slope) suatu tambang adalah :
– BESR yang masih diperbolehkan
– Struktur geologi yang meliputi joint, bidang-bidang geser, patahan, dll.
– Ada air, yaitu kandungan air tanah di dalam lapisan-lapisan batuan.
– Unsur waktu2 Sistem Pinirisan
Secara garis besar sistem penirisan tambang (drainage system) dapat dibagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu sistem penirisan langsung atau (konvensional) dan sistem penirisan tidak langsung (inkonvensional).
a. Sistem penirisan langsung adalah sistem penirisan dengan cara mengeluarkan (memompa) air yang sudah masuk ke dalam tambang. Sistem penirisan langsung dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
Penirisan dengan tunnel atau adit
Cara penirisan ini hanya bisa diterapkan untuk tambang yang terletak di daerah pegunungan atau berbentuk bukit. Air yang masuk ke dalam tambang dikeluarkan dengan cara mengalirkan air dari dasar tambang ke luar tambang melalui terowongan (tunnel/adit).Penirisan dengan open sump
Cara penirisan inilah yang pada umumnya banyak digunakan di tambang-tambang terbuka. Air yang masuk ke dalam tambang dikumpulkan ke suatu sumuran (sump) yang biasanya dibuat di dasar tambang dan dari sumuran tersebut kemudian air dipompa keluar tambang.
b Sistem penirisan tak langsung adalah sistem penirisan dengan cara mencegah masuknya air ke dalam tambang (preventive drainage system) artinya dengan cara membuat beberapa lubang bor dibagian luar daerah penambangan atau di jenjang kemudian dari lubang-lubang bor tersebut air dipompa ke luar tambang. Ada beberapa macam cara penirisan tak langsung, yaitu :
– siemens methods
– small pipe with vacuum pump
– deep well pump method
– electro osmosis methods
3 Ukuran Jenjang (Bench Dimension)Cara-cara pembongkaran akan mempengaruhi ukuran jenjang. Ada beberapa pendapat tentang ukuran jenjang itu, antara lain :
Menurut Head Quarter of US Army (pits and quarry tehnical bulletin)
W minimum = Y + Wt + Ls + G + WbW minimum = lebar jenjang minimum, m
Y = lebar yang disediakan untuk pengeboran, m
Wt = lebar yang disediakan untuk alat-alat, m
Ls = panjang power shovel tanpa panjang boom, m
G = floor cutting radius dari power shovel, m
Wb = lebar untuk broken material, m
Menurut L. Sheyyakov (mining of mineral deposits)
Lebar jenjang tergantung pada metoda penggalian dan kekerasan mateial yang ditambang.
Untuk material lunak
B = (1,00 sampai 1,50) Ro + L + L1 + L2
Keterangan
B = lebar jenjang, m
Ro = digging radius dari alat muat, m
L = jarak antara sisi jenjang (bench) dengan rel, 3-4 m
L1 = lebar lori, 1,75–3,00 m
L2 = jarak untuk menjaga agar tidak longsor, m
Untuk material keras
B = N + L + L1 + L2
Keterangan
B = lebar jenjang, m
N = lebar yang dibutuhkan untuk broken material, m
Disini tidak disediakan lebar untuk alat-muat/gali karena dianggap alat muat bekerja disamping broken material.
Menurut Melinkov dan Chevnokoy (safety in open cast mining)
Untuk lapisan yang lunak (soft strata)
B = 2R + C + C1 + L
Keterangan
B = lebar jenjang, m
R = digging radius dari alat muat, m
C = jarak sisi jenjang broken material ke garis tengah rel, m
L = lebar pengaman (safety), biasanya selebar dump truck, m
Untuk lapisan yang keras (hard strata)
B = a + C + C1 + L + A
Keterangan
B = lebar jenjang, m
a = lebar untuk broken material, m
A = lebar pemotongan pertama (awal), mMenurut Popov (the working of mineral deposit)
a. Tinggi jenjang dan kemiringannya
Kemiringan jenjang tergantung dari kandungan air pada material. Material yang relatif kering biasanya memungkinkan kemiringan jenjang yang lebih besar. Umumnya tinggi jenjang berkisar antara 12–15 m, dengan kemiringan :
untuk batuan beku : 70o – 80o
untuk batuan sedimen: 50o – 60o
untuk pasir kering : 40o – 50o
untuk batuan yang argilaceous : 35o – 45o
b. Lebar jenjang
Lebar jenjang antara 40–60 m, biasanya juga dibuat antara 80–100 m. Jika memakai multi row bore hole. Lebar minimum untuk batuan keras :
Vr = A + C + C1 + L + B
Keterangan :
Vr = lebar jenjang minimum, m
A = lebar broken material, m
C1 = 0,50 lebar lori = 2–3 m
B = lebar endapan yang diledakkan = 6–12 m
L = lebar yang ada menjamin extraction endapan pada jenjang di bawahnyaMenururt E. P. Pfleider (surface mining)
Tinggi jenjang : L = Lm x Sf
Keterangan :
L = tinggi jenjang, m
Lm = maximum cutting height dan alat muat
Sf = swell factor = 1/3 untuk cara corner cut dan = 0,50 untuk cara box cut
Menurut Hustrulid (open pit mine planning and design)
Pada tambang terbuka, masing-masing jenjang memiliki permukaan bagian atas dan bagian bawah yang dipisahkan oleh jarak H yang disebut dengan tinggi jenjang. Kemudian permukaan sub-vertikal yang tersingkap dan disebut dengan muka jenjang. Semuanya itu digambarkan dengan kaki lereng (toe), puncak (crest) dan sudut muka jenjang (face angle). Sudut muka jenjang ini dapat bervariasi tergantung dari karakteristik batuan, orientasi jenjang dan peledakan. Pada batuan keras sudut ini bervariasi antara 550–800. Bagian-bagian jenjang tersebut dapat digambarkan pada Gambar 01Gambar 01Bagian Jenjang Menurut Hastrulid
Permukaan jenjang yang tersingkap paling bawah disebut jenjang dasar (bench floor). Lebar jenjang ini adalah jarak antara crest dan toe yang diukur sepanjang permukaan jenjang bagian atas. Lebar bank adalah proyeksi horisontal dari muka jenjang. Terdapat beberapa tipe jenjang.
Jenjang kerja adalah suatu jenjang dimana dilakukan proses penambangan. lebar yang digali dari jenjang kerja ini disebut cut. Lebar jenjang kerja (WB) didefinisikan sebagai jarak dari crest pada jenjang dasar keposisi toe yang baru setelah cut digali. (lihat Gambar 02).Gambar 02Penampang Jenjang KerjaSetelah cut dipindahkan maka akan terlihat sisanya adalah sebagai jenjang pengaman atau jenjang penangkap (catch bench) dengan lebar SB. Tujuan pembuatan jenjang penangkap ini adalah :
a Untuk penahan material yang meluncur dari jenjang yang ada di atasnya
b Untuk memberhentikan pergerakan boulder yang bergerak ke bawah
Gambar 03Fungsi Jenjang Penangkap
Secara umum lebar dari jenjang penangkap adalah 2/3 dari tinggi jenjang sedangkan pada akhir umur tambang lebar jenjang penangkap kadang-kadang dikurangi sampai kira-kira 1/3 dari tinggi jenjang. Kadang-kadang jenjang ganda (double benches) ditinggalkan sepanjang final pit seperti pada Gambar 04Gambar 04Jenjang Ganda Pada Final Pit Limit
Sebagai tambahan pada jenjang penangkap, tumpukan material bongkahan (berm) biasanya sering terdapat di sepanjang crest. Dengan terdapatnya tumpukan tersebut maka akan terbentuk suatu saluran antara tumpukan dan kaki lereng (toe) untuk menangkap batuan yang jatuh (falling rock). Menurut Call (1986) bahwa geometri jenjang penangkap direkomendasikan untuk didesain seperti pada Gambar 05
Gambar 05Geometri Jenjang Penangkap
Referensi/Daftar Pustaka :
Buku Ajar Perencanaan Tambang, oleh Dr.Ir. Irwandy Arif, M.Sc. Ir. Gatut S. Adisoma, Ph.D.








































